|
Written by Topx
|
|
Thursday, 14 June 2007 |
|
programing dengan seni Mengapa saya bersikeras untuk secara khusus menulis mengenai seni pemrograman? Bab ini akan menjelaskan alasan-alasan saya. Saya banyak melihat program buatan mahasiswa dan juga programmer “profesional” di Indonesia. Untuk sementara ini saya tidak membahas masalah fungsional dari program-program tersebut. Ini akan menjadi bahasan terpisah (mungkin di buku lain). Kita asumsikan saja bahwa program-program tersebut berjalan sesuai dengan fungsinya. Yang saya keluhkan adalah program tersebut tidak memiliki jiwa seni. Bahkan banyak program yang dibuat asal jalan dan “jorok.” Saya memang menuntut program yang anda buat memiliki aspek seni. Mengapa demikian? Bukankah yang penting adalah fungsi dari program tersebut? Selama program tersebut bisa berjalan secara fungsional apa salahnya? Baiklah, saya ambil beberapa analogi. Apa yang membedakan mobil BMW dengan angkot? Keduanya mobil bukan? Keduanya bisa membawa anda dari satu tempat ke tempat lain. Fungsi keduanya sama. Akan tetapi, angkot tentu saja bukan BMW. Desain dari mobil BMW sangat elegan. Apa yang membedakan produk dari Apple Computer dengan komputer dan sistem operasi buatan perusahaan komputer lainnya? Apple Computer memperhatikan masalah desain. Produk mereka memiliki estetika. Elegan. Saya masih ingat apa yang dikatakan oleh Steve Jobs - pendiri Apple Computer - dalam sebuah wawancara. Dia ditanya mengenai pendapatnya tentang Microsoft. Steve Jobs mengatakan bahwa dia tidak mempermasalahkan kesuksesan Microsoft, hanya ... ”They (Microsoft) don’t have taste!” Nah, itu dia! Software atau program komputer merupakan sebuah produk yang digunakan oleh manusia. Dia merupakan sebuah karya desain.
|
|
Last Updated ( Friday, 15 June 2007 )
|